Di sebuah pertigaan menuju Pustaka Propinsi Sumatera Barat, ada billboard besar berisi tagline : “Ibuku, Pustaka Pertamaku.” Lengkap dengan foto Tantowi Yahya sebagai Duta Baca Nasional. Saya melihat ada inkoherensi antara tagline dan duta baca ini.
Suatu ketika, saya melihat tayangan iklan TV berbayar (tv kabel) yang memasang Tantowi Yahya sebagai bintang iklannya. Ini inkoherensi kedua. Inkoherensi pertama masih bisa dimaafkan. Tapi inkoherensi kedua ini benar-benar merusak citra duta baca yang ada pada diri Tantowi Yahya.
Pertama, TV dan buku adalah dua produk yang dihasilkan oleh dua budaya yang cukup bertolak belakang. Buku dilahirkan oleh budaya literal untuk menciptakan masyarakat membaca. TV di sudut lain, dilahirkan budaya menonton. Kedua, masyarakat Indonesia gagal menjadi literal society karena mengalami loncatan kultural prematur ke budaya menonton sejak hadirnya stasiun-stasiun TV swasta. Menjadikan seorang duta baca nasional sebagai bintang iklan TV berlangganan atau sebaliknya, akan mengaburkan upaya pengembangan masyarakat membaca. TV tidak pernah benar-benar berhasil menjadi media ilmu pengetahuan karena adanya kapital besar yang terlibat di dalamnya. []
