Pagi ini, dalam perjalanan pulang aku melihat seekor anjing tergeletak di hamparan aspal depan gerbang kampus UNAND. Tewas. Tepat di depan halte. Dalam hati, aku mengumpat betapa brengseknya orang yang telah menabrak anjing ini. Mengingat bahkan manusia pun sering melintas di dari satu sisi ke sisi jalan lain di depan halte ini, ngebut sama sekali bukanlah opsi.
Mungkin ia tidak sepenuhnya salah ketika menabrak anjing ini. Mungkin ia takut tergelincir ketika membanting stir mobil atau stang motor. Tapi ia tetap saja brengsek karena meninggalkan anjing ini sekarat atau tewas. Jika sekarat harusnya ia menolong atau setidaknya menemani anjing ini menemui ajalnya. Jika tewas, setidaknya ia menguburkannya dengan baik. Aku juga tidak pernah mendengar ada pemilik anjing yang minta ganti rugi karena anjingnya mati berkeliaran di jalan.
Aku juga mengumpat pada kenyataan bahwa anjing ini mati di daerah keramaian tanpa satu orang pun yang mau menolong atau setidaknya menepikan jasadnya agar tak hancur terlindas. Pejalan kaki, pengguna halte, penyebrang jalan, pengendara mobil, atau pengendara motor sepertiku. Atau mungkin yang terhormat para dosen, mahasiswa, mahasiswa yang mengaku aktivis dan idealis. Anak-anak masjid kampus. Aku mengumpat mereka semua !
Sejenak aku berhenti tak jauh dari anjing yang terkapar itu. Sudah sering kualami kejadian ini. Hatiku selalu miris mendapati binatang dengan tubuh hancur tergeletak di jalan. Terlintas dalam pikiranku untuk menolong. Tapi pikiran lain menyuruhku untuk pergi karena takut orang-orang melihatku dengan mata menuduh.
Di tengah ragu ku jalankan motor. Tapi tak lama aku mengumpat diriku sendiri. Aku tak ingin menjadi bagian orang-orang brengsek itu ! Aku teringat kisah yang ditulis Ema Abdullah tentang sebuah negara Katolik di sebelah selatan Madagaskar yang bahkan kura-kura yang melintas di jalanan pun diberi kesempatan lewat. Anak-anak negeri itu tak mengenal ketapel. Bapak-bapak di negeri itu tak mempunyai satupun kandang burung di rumahnya. Dan negara itu mempunyai UU yang menjamin hak asasi binatang liar. Bukankah seharusnya aku sebagai muslim harus bersikap lebih baik dari mereka yang Katolik itu. Bahkan Tuhan pun memuji umat Muhammad sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk kemaslahatan seluruh manusia, menyuruh pada kebajikan dan menyeru untuk menghindari kemungkaran.
Aku harus menolong anjing ini! Terlintas juga dalam pikiranku sebuah kisah Israilliyat: tentang seorang pelacur yang masuk sorga karena hanya memberi minum seekor anjing. Ah, lagi-lagi pikiran-pikiran utilitarian, memberi karena mengharap sesuatu, juga yang menggerakkan niat ini. Harusnya keislaman sufistik yang menggerakkanku, keislaman ala Rabi’ah Al-Adawiyah, yang menganggap semua yang di atas debu (bumi) ini adalah debu, yang tak membutuhkan sorga atau neraka selain hanya ingin berada di sisi sang Kekasih.
Kepalaku terus berpikir dengan apa harus ku angkat jasad itu. Karung dan kantong plastik. Sebelum sempat mencapai jembatan Koto Panjang, aku melihat sebuah karung tergeletak di depan sebuah warung. Aku pikir ini mungkin sebuah ‘isyarat.’ Segera saja kubelokkan motor ke warung itu. Rupanya karung itu ada isinya. Terpikir olehku untuk membeli sebuah kardus. Pemilik warung bertanya untuk apa kardus itu kubeli. Hampir saja aku menyebut kata “buku.” Tapi lagi-lagi aku berpikir untuk apa membuat sebuah dosa (bohong) untuk sebuah kebaikan yang akan kulakukan. Lalu ku sebut saja kata “barang” mengingat anjing itu sudah menjadi jasad. Aku tak hendak mengatakan niat baikku untuk menolong anjing itu. Aku takut riya’.
Lalu aku kembali ke depan halte itu. Sebuah bis kampus berhenti tepat ketika ku angkat jasad anjing itu. Aku tak hendak riya’. Juga tak hendak takut dituduh membunuh anjing itu. Ku bunuh semua suara-suara syirik yang menyerang niatku. Bukankah seharusnya satu-satunya suara yang harus kudengar adalah suara Tuhanku? Dan bila suara-suara manusia itu lebih kudengar ketimbang Tuhanku itu sama saja dengan syirik?
Ku masukkan jasad itu ke dalam kardus, ku bawa ke sebuah lereng yang penuh dengan pepohonan, jauh dari lalu lalang manusia. Aku tak punya alat untuk menguburnya. Tapi tak hendak membuangnya ke sungai yang mengalir bawah lereng ini karena hanya menciptakan masalah baru: pencemaran. Ku baringkan saja anjing itu di sebuah pohon, kututup kepalanya dengan kantong plastik, ku tutup jasadnya dengan kardus.
Dan kutinggalkan. Seperti Abdul Muthallib yang menyerahkan nasib Ka’bah kepada Pemiliknya di hadapan penghancuran oleh pasukan Abrahah, ku serahkan sisa tugas yang seharusnya ku lakukan kepada Tuhan. Inilah aku manusia lemah. Ku serahkan padamu Tuhan, berharap ulat-ulat yang akan mengurainya menjadi tiada. Aku hanya berharap, baunya tak mengusik satu pun manusia yang mungkin akan menendang jasad ini ke dalam sungai itu.
Tuhan, ampuni kami..

yak..jangan mikirin prasangka orang jika mau menolong dengan niat baik..dan juga jangan harapkan orang berkata memuji ketika melakukan sesuatu yg baik:)