Di pesantren tempat saya sekolah dulu, menonton tv bagi santri hanya bisa dilakukan sekali dalam 4 tahun. Coba tebak? Hahaha.. untuk nonton Piala Dunia ! Bayangkan saja, kalau dari sudut pandang ini, Piala Dunia 1998 tampak jauh lebih penting dari peristiwa Mei 1998 dan suksesi kepemimpinan di negeri ini. Tapi apakah dengan demikian political awareness para santri jauh lebih rendah ketimbang rekan sebaya mereka?
Tentu saja tidak. Santri terbiasa menerima informasi dari media cetak ketimbang media elektronik. Setiap hari ada 3 koran di luar tabloid BOLA yang tersedia di beberapa etalase koran yang terletak di areal strategis pesantren. Yaitu, Republika, Media Indonesia, dan Jawa Pos. Masing-masing dengan gaya dan kebijakan pemberitaan yang bisa diperbandingkan. Belum lagi bahwa media cetak memberikan kajian yang lebih mendalam terhadap suatu berita ketimbang media elektronik yang amat ketat dengan aturan jam tayang. Tentu saja, media elektronik bisa memberitakan sesuatu sesegera mungkin bahkan liputan langsung dari tempat kejadian. Perbedaan kecepatan pemberitaan itu tidak begitu penting bagi publik politik macam para santri ini. Kedalaman pemahaman jauh lebih penting.
Kedalaman pemahaman ini juga dibantu dengan adanya berita dan rumor politik yang terkadang tidak mungkin diberitakan di media massa tapi tersebar di kalangan santri ini. Sumber informasi ini mengalir dari para kyai yang menerima langsung isu-isu dari pusat-pusat kekuasaan di Jakarta. Biasanya, kyai membicarakannya saat Pertemuan setiap Kamis siang atau Kemisan. Lalu, para tenaga pengajar menyebarkannya di kelas-kelas baik sebagai intermezo saat mengajar atau saat mengisi kelas yang ditinggalkan guru yang berhalangan. Singkatnya, pembicaraan politik bukan hal yang aneh di kalangan santri, terutama santri-santri senior (setara dengan kelas 2 & 3 SMA)
Dengan kekayaan sumber informasi ini, santri mempunyai perspektif politik yang bisa jadi mengejutkan. Coba anda tebak partai apa yang menang saat pemilu di bilik-bilik suara pada sebuah pesantren yang santrinya berasal dari keluarga yang berafiliasi atau setidaknya berasal dari kantong-kantong Muhammadiyah, NU, Perti dan Persis ?
PAN? PKB? Salah besar ! Tidak seperti di pesantren lain dimana para kyai-nya punya afiliasi politik yang jelas terhadap suatu partai, di pesantren ini soal pilihan politik sebagaimana soal pilihan mazhab fiqh adalah urusan pribadi. Dan yang menang adalah PKS, jauh dari afiliasi tradisional mereka.
Pilihan ini tetap mencengangkan berdasarkan kenyataan bahwa secara umum, mereka dididik dengan pola pemahaman keislaman yang cenderung moderat. PKS dikenal dengan kecenderungan Islam yang–untuk tidak menyebutkan fundamentalis kanan–cenderung moderat. Lalu, apa masalahnya dengan partai-partai yang dibangun oleh para pengusung Islam Moderat semacam PAN dan PKB ? Silahkan jawab sendiri..
Tentu saja tidak. Santri terbiasa menerima informasi dari media cetak ketimbang media elektronik. Setiap hari ada 3 koran di luar tabloid BOLA yang tersedia di beberapa etalase koran yang terletak di areal strategis pesantren. Yaitu, Republika, Media Indonesia, dan Jawa Pos. Masing-masing dengan gaya dan kebijakan pemberitaan yang bisa diperbandingkan. Belum lagi bahwa media cetak memberikan kajian yang lebih mendalam terhadap suatu berita ketimbang media elektronik yang amat ketat dengan aturan jam tayang. Tentu saja, media elektronik bisa memberitakan sesuatu sesegera mungkin bahkan liputan langsung dari tempat kejadian. Perbedaan kecepatan pemberitaan itu tidak begitu penting bagi publik politik macam para santri ini. Kedalaman pemahaman jauh lebih penting.
Kedalaman pemahaman ini juga dibantu dengan adanya berita dan rumor politik yang terkadang tidak mungkin diberitakan di media massa tapi tersebar di kalangan santri ini. Sumber informasi ini mengalir dari para kyai yang menerima langsung isu-isu dari pusat-pusat kekuasaan di Jakarta. Biasanya, kyai membicarakannya saat Pertemuan setiap Kamis siang atau Kemisan. Lalu, para tenaga pengajar menyebarkannya di kelas-kelas baik sebagai intermezo saat mengajar atau saat mengisi kelas yang ditinggalkan guru yang berhalangan. Singkatnya, pembicaraan politik bukan hal yang aneh di kalangan santri, terutama santri-santri senior (setara dengan kelas 2 & 3 SMA)
Dengan kekayaan sumber informasi ini, santri mempunyai perspektif politik yang bisa jadi mengejutkan. Coba anda tebak partai apa yang menang saat pemilu di bilik-bilik suara pada sebuah pesantren yang santrinya berasal dari keluarga yang berafiliasi atau setidaknya berasal dari kantong-kantong Muhammadiyah, NU, Perti dan Persis ?
PAN? PKB? Salah besar ! Tidak seperti di pesantren lain dimana para kyai-nya punya afiliasi politik yang jelas terhadap suatu partai, di pesantren ini soal pilihan politik sebagaimana soal pilihan mazhab fiqh adalah urusan pribadi. Dan yang menang adalah PKS, jauh dari afiliasi tradisional mereka.
Pilihan ini tetap mencengangkan berdasarkan kenyataan bahwa secara umum, mereka dididik dengan pola pemahaman keislaman yang cenderung moderat. PKS dikenal dengan kecenderungan Islam yang–untuk tidak menyebutkan fundamentalis kanan–cenderung moderat. Lalu, apa masalahnya dengan partai-partai yang dibangun oleh para pengusung Islam Moderat semacam PAN dan PKB ? Silahkan jawab sendiri..

Kalo kader2 PKS kalo sehari ga browsing internet kayanya ada yang kurang atw tangan bisa gatel2,,, hehheheh………….
Peace aja dech……………….