Menurut saya ada 4 faktor kunci yang akan menentukan masa depan PKS. Pertama, kematangan kalkulasi politik. Kedua, konsistensi terhadap cita-cita politik bila berkuasa dan strategi implementasi Ketiga, sumber daya manusia kader partai. Keempat, kemampuan pencitraan. Keempat hal itu akan saya bahas secara ilustratif saja, tidak teoritis
PKS hingga saat ini sering gagal dalam kalkulasi politik. Contohnya, pada pemilihan Gubernur Sumatera Barat pada tahun 2005. Saat itu PKS mencalonkan cagub Irwan Prayitno. Saya melihat PKS terlalu percaya diri mengusulkan kadernya sendiri. Pertama, PKS hanya pemenang ketiga pemilu 2004 di Sumbar. Kedua, kader PKS ini lebih dikenal di tataran politik nasional ketimbang lokal. Ketiga, Irwan Prayitno meski mengaku sebagai urang awak tulen dalam konteks sentimen kedaerahan tetap akan sulit diterima mengingat namanya yang kedengeran Jawa. Massa mengambang semacam ibu-ibu penjual sayur akan cenderung tidak memilihnya.
Sebaiknya memang PKS mencalonkan Gamawan Fauzi pada saat itu. Pertama, secara pencitraan, Gamawan Fauzi adalah calon yang paling dikenal secara luas. Kedua, citra “bersih” Gamawan Fauzi sepadan dengan cita-cita politik PKS. Kedua, dengan mendukung calon terkuat, PKS bisa masuk ke dalam kekuasaan dan menjalankan cita-citanya melalui Gamawan.
Masalah kunci kedua adalah konsistensi terhada cita-cita politik dan strategi implementasi. PKS adalah pemenang pemilu di Kota Padang. Meski kalkulasi politiknya gagal mengusung kandidatnya menjadi walikota terpilih, setidaknya PKS bisa dianggap berkuasa secara parlemen di kota ini. PKS bisa menjadi bargaining power yang kuat bagi walikota demi tercapainya good governance. Masalahnya adalah ada jarak antara yang idealisme dan kenyataan politik PKS. Contoh kecilnya, adalah persoalan APBD Kota Padang. Seharusnya kekuasaan kader PKS di yang menjadi anggota DPRD Padang bisa menciptakan anggaran yang berpihak pada rakyat. Kenyataannya anggaran untuk jalan-jalan ke luar negeri bagi anggota dewan bisa lolos dan disahkan. Dan konyolnya, kader PKS baru berteriak menolak ketika isu jalan-jalan ini diangkat media massa.
Masalah kunci ketiga adalah sumber daya manusia PKS. Kader PKS yang menjadi anggota dewan di DPRD Padang adalah anak-anak muda yang rata-rata mantan aktivis Lembaga Dakwah Kampus. Mereka lebih fasih berbicara hal-hal normatif ketimbang masalah-masalah sosial dan ekonomi.
Masalah keempat adalah kemampuan pencitraan. Sejak pemilu 2004, saya melihat turunnya intensitas pencitraan PKS di media massa. Hampir tidak terdengar kevokalan kader-kader PKS di Senayan. Belum lagi, Presiden PKS saat ini tampak “pendiam.” Berbeda dengan Presiden sebelumnya yang punya retorika lumayan memukau.
Berdasarkan empat poin di atas, saya memprediksi bila tidak ada perubahan hingga Pemilu 2008, raihan suara PKS setidaknya sama dengan raihan Pemilu 2004. Bahkan mungkin menurun. Kita lihat saja. [ ]
PKS hingga saat ini sering gagal dalam kalkulasi politik. Contohnya, pada pemilihan Gubernur Sumatera Barat pada tahun 2005. Saat itu PKS mencalonkan cagub Irwan Prayitno. Saya melihat PKS terlalu percaya diri mengusulkan kadernya sendiri. Pertama, PKS hanya pemenang ketiga pemilu 2004 di Sumbar. Kedua, kader PKS ini lebih dikenal di tataran politik nasional ketimbang lokal. Ketiga, Irwan Prayitno meski mengaku sebagai urang awak tulen dalam konteks sentimen kedaerahan tetap akan sulit diterima mengingat namanya yang kedengeran Jawa. Massa mengambang semacam ibu-ibu penjual sayur akan cenderung tidak memilihnya.
Sebaiknya memang PKS mencalonkan Gamawan Fauzi pada saat itu. Pertama, secara pencitraan, Gamawan Fauzi adalah calon yang paling dikenal secara luas. Kedua, citra “bersih” Gamawan Fauzi sepadan dengan cita-cita politik PKS. Kedua, dengan mendukung calon terkuat, PKS bisa masuk ke dalam kekuasaan dan menjalankan cita-citanya melalui Gamawan.
Masalah kunci kedua adalah konsistensi terhada cita-cita politik dan strategi implementasi. PKS adalah pemenang pemilu di Kota Padang. Meski kalkulasi politiknya gagal mengusung kandidatnya menjadi walikota terpilih, setidaknya PKS bisa dianggap berkuasa secara parlemen di kota ini. PKS bisa menjadi bargaining power yang kuat bagi walikota demi tercapainya good governance. Masalahnya adalah ada jarak antara yang idealisme dan kenyataan politik PKS. Contoh kecilnya, adalah persoalan APBD Kota Padang. Seharusnya kekuasaan kader PKS di yang menjadi anggota DPRD Padang bisa menciptakan anggaran yang berpihak pada rakyat. Kenyataannya anggaran untuk jalan-jalan ke luar negeri bagi anggota dewan bisa lolos dan disahkan. Dan konyolnya, kader PKS baru berteriak menolak ketika isu jalan-jalan ini diangkat media massa.
Masalah kunci ketiga adalah sumber daya manusia PKS. Kader PKS yang menjadi anggota dewan di DPRD Padang adalah anak-anak muda yang rata-rata mantan aktivis Lembaga Dakwah Kampus. Mereka lebih fasih berbicara hal-hal normatif ketimbang masalah-masalah sosial dan ekonomi.
Masalah keempat adalah kemampuan pencitraan. Sejak pemilu 2004, saya melihat turunnya intensitas pencitraan PKS di media massa. Hampir tidak terdengar kevokalan kader-kader PKS di Senayan. Belum lagi, Presiden PKS saat ini tampak “pendiam.” Berbeda dengan Presiden sebelumnya yang punya retorika lumayan memukau.
Berdasarkan empat poin di atas, saya memprediksi bila tidak ada perubahan hingga Pemilu 2008, raihan suara PKS setidaknya sama dengan raihan Pemilu 2004. Bahkan mungkin menurun. Kita lihat saja. [ ]

Saya ga begitu ngerti masalah politik, tapi dulu sempat meliput acara Irwan Prayitno di Hotel Bumiminang sebelum Pra Pilkada, acaranya semacam pengenalan calon gubernur gitu..
Cuma yang ada dalam benak saya waktu itu, siapa Irwan? dan setelah tanya kiri-kanan dg para wartawan lokal mereka jg ga memberikan jawaban yg memuaskan..
Dan, itulah..barangkali Irwan cuma dikenal oleh partai yg mengusungnya saja..
Dan pernah ada kejadian yg cukup menggelikan, temen sekost yg sangat memuja PKS..koar-koar manas2in buat milih Irwan pas Pilkada, setelah saya tanya sekenal apa dia dg sosok Irwan tau jawabannya apa?
hanya karena Irwan diusung PKS!
Hhhh..
Insya Allah Masa Depan PKS akan cerah,,,,, secerah Umat Islam Di Indonesia…………
Lihat Saja Nanti…………………….
BRAVO PKS
Allahu Akbar
tentang nilai lebih kader PKS di mata kader PDI Perjuangan lihat di sini:
http://kalipaksi.wordpress.com/2009/03/30/kisah-kurcaca-moncong-putih-dan-kurcaci-pks/
sudah banyak yang tahu irwah, kan ada adzkia padang
bener juga… pKs harus lebih profesional…..
dan tidak keluar dr garis juang nya