ayo klik >>
Ditulis dalam desau | Tidak ada komentar »
ayo klik >>
Ditulis dalam desau | Tidak ada komentar »
sorry friends..
daku pindah lagi ke blogspot
>> pejalanhujan.co.nr atau
http://pejalanhujan.blogspot.com
thx,
Ditulis dalam Uncategorized | Tidak ada komentar »
Di sebuah pertigaan menuju Pustaka Propinsi Sumatera Barat, ada billboard besar berisi tagline : “Ibuku, Pustaka Pertamaku.” Lengkap dengan foto Tantowi Yahya sebagai Duta Baca Nasional. Saya melihat ada inkoherensi antara tagline dan duta baca ini.
Suatu ketika, saya melihat tayangan iklan TV berbayar (tv kabel) yang memasang Tantowi Yahya sebagai bintang iklannya. Ini inkoherensi kedua. Inkoherensi pertama masih bisa dimaafkan. Tapi inkoherensi kedua ini benar-benar merusak citra duta baca yang ada pada diri Tantowi Yahya.
Pertama, TV dan buku adalah dua produk yang dihasilkan oleh dua budaya yang cukup bertolak belakang. Buku dilahirkan oleh budaya literal untuk menciptakan masyarakat membaca. TV di sudut lain, dilahirkan budaya menonton. Kedua, masyarakat Indonesia gagal menjadi literal society karena mengalami loncatan kultural prematur ke budaya menonton sejak hadirnya stasiun-stasiun TV swasta. Menjadikan seorang duta baca nasional sebagai bintang iklan TV berlangganan atau sebaliknya, akan mengaburkan upaya pengembangan masyarakat membaca. TV tidak pernah benar-benar berhasil menjadi media ilmu pengetahuan karena adanya kapital besar yang terlibat di dalamnya. []
Ditulis dalam marketing, strategic | Tidak ada komentar »
Telkom telah lama meluncurkan 3 paket dalam lini produk Speedy: paket Warnet, Office dan Personal. Ketiganya dirilis berdasarkan kuota (quota-based access). Paket Warnet dan Office mempunyai kuota tak terbatas dan dihargai masing-masing Rp 2 juta dan Rp 750 ribu per bulan. Paket Personal hanya berharga Rp 200 ribu per bulan dengan kuota bulanan 1 Gigabyte (GB) atau setara dengan 1000 Megabytes (MB).

Baru-baru ini, dirilis paket Speedy Time-based. Konsumen bisa berselancar 50 jam / bulan dengan membayar Rp 200 ribu per bulan. Klik disini untuk melihat lini produk speedy
Sebenarnya paket Speedy Time-based ini agak aneh. Pertama, dengan berlangganan Speedy Personal saja, saya memperkirakan pengguna bisa mengakses internet selama 150 jam atau 5 jam sehari. Ini berdasarkan asumsi maksimal bahwa selama satu jam mengakses, seorang pengguna menghabiskan / menggunakan 6,6 MB. Itu di luar aktivitas download files yang lebih besar dari 1 MB (audio, video & program aplikasi).
Asumsi 6,6 MB adalah perkiraan optimistik atau maksimal untuk pengguna internet yang cukup mahir menggunakan komputer. Pengguna semacam ini lihai dan gesit dalam menggunakan mouse dan hafal shortcut-shortcut penting, seperti CTR+C, CTR+X, CTR+Y.
Sementara, pengguna awam yang terbiasa membuka situs-situs populer dan chatting, hanya menghabiskan 3 – 5 MB per jam. Boleh disimpulkan, berlangganan SPEEDY PERSONAL jauh lebih VALUABLE ketimbang SPEEDY TIME-BASED.
Pertanyaannya, kenapa Telkom meluncurkan Speedy Time-based, sementara SpeedyPersonal sudah bisa memenuhi kebutuhan konsumen ?
Hayyooo, siapa yang bisa jawab ?
Ditulis dalam marketing, strategic | 13 Komentar »
Hesti bilang blogku ini kelewat “berat.” Kalo blog baru ini memang aku niatkan untuk berat dikit. Tapi dia bilang blog lama atau baru sama saja L Mungkin dia mau aku menulis cerita bodoh lagi J
Oke lah, cerita bodoh lagi:
Dua minggu yang lalu, ada reuni kecil kelas Ing2000. Kebetulan Hesti, Debi, Venny dan Didi pulang ke Padang. Reuni kali ini idenya Ika. Aku sih gak begitu mood. Sempet juga sih ditugasin ngSMS ke anak-anak Ing yang akuntansi. Tapi tetep aja gak mood. Betebetebete.. K
Sampai akhirnya, sehabis maghrib seseorang menelponku :
+ Halooo.. bisa bicara dengan Sari
- Sari..siapa? (jawabku)
+ Sari adiknya Debi. Ini hp Sari kan?
- Ini siapa ? (balik nanya :p )
+ Ini Adri, temennya Debi..
- Adri siapa ?
(Sejak kapan Debi punya temen namanya Adri. Tiba-tiba aku ingat, suara gadis di ujung telpon itu kan mirip Iad.)
+ Oh salah sambung ya..maaf..
- Nggak nggak. Iaaaaaad, ini Sonny
Hahaha.. jadi ketawa sendiri. Gadis di ujung telpon itu namanya Khairi Adrianti. Di kelas biasanya dipanggil I-A-D a.k.a Ilmu Alamiah Dasar :p
Tapi kadang kalo ada yang mood, dipanggil “Khairi” biar kedengarannya sedikit keren, formal dan elegan dikit.
Adri? Siapa pula yang bela-belain manggil dia Adri. Tapi iya sih kedengerannya sedikit berkelas dan unik. Tapi tetep aja sekali dipanggil IAD ya IAD :p
Eh tapi tunggu dulu. Posting ini bukan buat mengolok-olok si Adri. (Lama-lama seru juga manggil dia dengan “Adri”) Posting ini cuman buat mengenang si Adri ini. (Yah, Adri, bukan maksud hati ngirain kamu udah isded) Cuman mo ingat-ingat bahwa kita punya masa-masa indah dulu. (Eits, yang baca jangan muntah)
Gak indah-indah amat sih. Tapi paling gak si Debi & Ika bisa ngiri dikit :p Dulu waktu Dhy & Adri masih ngekost di Sawahan, sering main-main ke sono. Ngobrol betiga. Seru juga. Yang satu cerewet, yang satu lagi lucu & garing. Apalagi kalo ditambah ilustrasi ada rembulan yang lagi purnama, langit yang cerah dan bintang-bintang. Indah banget kan? (tu kan ada yang muntah)
Eh kalo diitung-itung, orang yang paling sering di sebelahku waktu reunian ya si Adri ini. Pertama, waktu duduk-duduk di Damar sebelum akhirnya buka puasa di Pattimura. Kedua, waktu reunian Ramadhan kemarin. Ketiga, reunian pertengahan Mei kemarin. Gara-gara si Hesti gak bisa jemput, “terpaksa-lah” menjemput si Adri.
Nah Iad, catet ya..
Sebelum jemput kamu, aku bela-belain mandi dulu. Padahal abis ashar udah mandi juga lho. Trus pake harum-haruman dikit. Eh di jalan turun hujan rintik-rintik. Seru juga. Dan jangan ketawa ya kalo aku bilang sempat nyasar 2 kali nyari rumah kamu. Padahal kan cuman radius 1,5 km dari rumahku. Hiks.. nyasar di kota sendiri malu-maluin. Deket rumah lagi L
Oh ya, kamu gadis ke-9 yang pernah aku bonceng seumur hidup di luar keluargaku. Itu sudah termasuk 4 anak kost yang pernah kubonceng untuk keperluan yang urgen (almaslahah almursalah).
Nah, posting ini bodoh banget kan ?
Ditulis dalam desau | 1 Komentar »
Pagi ini, dalam perjalanan pulang aku melihat seekor anjing tergeletak di hamparan aspal depan gerbang kampus UNAND. Tewas. Tepat di depan halte. Dalam hati, aku mengumpat betapa brengseknya orang yang telah menabrak anjing ini. Mengingat bahkan manusia pun sering melintas di dari satu sisi ke sisi jalan lain di depan halte ini, ngebut sama sekali bukanlah opsi.
Mungkin ia tidak sepenuhnya salah ketika menabrak anjing ini. Mungkin ia takut tergelincir ketika membanting stir mobil atau stang motor. Tapi ia tetap saja brengsek karena meninggalkan anjing ini sekarat atau tewas. Jika sekarat harusnya ia menolong atau setidaknya menemani anjing ini menemui ajalnya. Jika tewas, setidaknya ia menguburkannya dengan baik. Aku juga tidak pernah mendengar ada pemilik anjing yang minta ganti rugi karena anjingnya mati berkeliaran di jalan.
Aku juga mengumpat pada kenyataan bahwa anjing ini mati di daerah keramaian tanpa satu orang pun yang mau menolong atau setidaknya menepikan jasadnya agar tak hancur terlindas. Pejalan kaki, pengguna halte, penyebrang jalan, pengendara mobil, atau pengendara motor sepertiku. Atau mungkin yang terhormat para dosen, mahasiswa, mahasiswa yang mengaku aktivis dan idealis. Anak-anak masjid kampus. Aku mengumpat mereka semua !
Sejenak aku berhenti tak jauh dari anjing yang terkapar itu. Sudah sering kualami kejadian ini. Hatiku selalu miris mendapati binatang dengan tubuh hancur tergeletak di jalan. Terlintas dalam pikiranku untuk menolong. Tapi pikiran lain menyuruhku untuk pergi karena takut orang-orang melihatku dengan mata menuduh.
Di tengah ragu ku jalankan motor. Tapi tak lama aku mengumpat diriku sendiri. Aku tak ingin menjadi bagian orang-orang brengsek itu ! Aku teringat kisah yang ditulis Ema Abdullah tentang sebuah negara Katolik di sebelah selatan Madagaskar yang bahkan kura-kura yang melintas di jalanan pun diberi kesempatan lewat. Anak-anak negeri itu tak mengenal ketapel. Bapak-bapak di negeri itu tak mempunyai satupun kandang burung di rumahnya. Dan negara itu mempunyai UU yang menjamin hak asasi binatang liar. Bukankah seharusnya aku sebagai muslim harus bersikap lebih baik dari mereka yang Katolik itu. Bahkan Tuhan pun memuji umat Muhammad sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk kemaslahatan seluruh manusia, menyuruh pada kebajikan dan menyeru untuk menghindari kemungkaran.
Aku harus menolong anjing ini! Terlintas juga dalam pikiranku sebuah kisah Israilliyat: tentang seorang pelacur yang masuk sorga karena hanya memberi minum seekor anjing. Ah, lagi-lagi pikiran-pikiran utilitarian, memberi karena mengharap sesuatu, juga yang menggerakkan niat ini. Harusnya keislaman sufistik yang menggerakkanku, keislaman ala Rabi’ah Al-Adawiyah, yang menganggap semua yang di atas debu (bumi) ini adalah debu, yang tak membutuhkan sorga atau neraka selain hanya ingin berada di sisi sang Kekasih.
Kepalaku terus berpikir dengan apa harus ku angkat jasad itu. Karung dan kantong plastik. Sebelum sempat mencapai jembatan Koto Panjang, aku melihat sebuah karung tergeletak di depan sebuah warung. Aku pikir ini mungkin sebuah ‘isyarat.’ Segera saja kubelokkan motor ke warung itu. Rupanya karung itu ada isinya. Terpikir olehku untuk membeli sebuah kardus. Pemilik warung bertanya untuk apa kardus itu kubeli. Hampir saja aku menyebut kata “buku.” Tapi lagi-lagi aku berpikir untuk apa membuat sebuah dosa (bohong) untuk sebuah kebaikan yang akan kulakukan. Lalu ku sebut saja kata “barang” mengingat anjing itu sudah menjadi jasad. Aku tak hendak mengatakan niat baikku untuk menolong anjing itu. Aku takut riya’.
Lalu aku kembali ke depan halte itu. Sebuah bis kampus berhenti tepat ketika ku angkat jasad anjing itu. Aku tak hendak riya’. Juga tak hendak takut dituduh membunuh anjing itu. Ku bunuh semua suara-suara syirik yang menyerang niatku. Bukankah seharusnya satu-satunya suara yang harus kudengar adalah suara Tuhanku? Dan bila suara-suara manusia itu lebih kudengar ketimbang Tuhanku itu sama saja dengan syirik?
Ku masukkan jasad itu ke dalam kardus, ku bawa ke sebuah lereng yang penuh dengan pepohonan, jauh dari lalu lalang manusia. Aku tak punya alat untuk menguburnya. Tapi tak hendak membuangnya ke sungai yang mengalir bawah lereng ini karena hanya menciptakan masalah baru: pencemaran. Ku baringkan saja anjing itu di sebuah pohon, kututup kepalanya dengan kantong plastik, ku tutup jasadnya dengan kardus.
Dan kutinggalkan. Seperti Abdul Muthallib yang menyerahkan nasib Ka’bah kepada Pemiliknya di hadapan penghancuran oleh pasukan Abrahah, ku serahkan sisa tugas yang seharusnya ku lakukan kepada Tuhan. Inilah aku manusia lemah. Ku serahkan padamu Tuhan, berharap ulat-ulat yang akan mengurainya menjadi tiada. Aku hanya berharap, baunya tak mengusik satu pun manusia yang mungkin akan menendang jasad ini ke dalam sungai itu.
Tuhan, ampuni kami..
Ditulis dalam desau | 1 Komentar »
Saya rasa persoalan good governance amat terkait dengan dukungan teknologi informasi. Proses yang ter-otomatisasi akan sulit dicurangi. Belum lagi bila tender dijalankan secara elektronik, atau hampir tanpa kontak fisik pada masa tender dengan para vendor, mungkin proses tender atau lelang yang selama ini berbau KKN di pemerintahan akan terkikis.Powered by ScribeFire.
Ditulis dalam IT, strategic | Tidak ada komentar »
Saya amat terkejut dengan penampilannya yang amat dewasa: menggunakan korset, bermake up sedikit mencolok, dan yang paling menyebalkan video klip-nya terlalu dewasa untuk usianya yang baru 17 tahun. Ditambah lagi bahwa video klip ini hampir mencontek habis-habisan video klip terbaru Evanescene. Dan lagi, menurut saya citra Ghothic tidak cocok untuk Sherina remaja.
Dulu, saya sempat membeli album perdana Sherina untuk keponakan saya yang masih bayi. Alunan musik ala orkestra dalam album itu amat baik. Tapi cara bernyanyi Sherina yang amat teknikal itu, akan menyulitkan anak-anak seumuran dia. Dalam hal ini saya tetap setuju dengan pakem AT Mahmud, bahwa lirik lagu anak-anak harus sederhana dan mudah dinyanyikan.
Tapi secara umum, meski cara bernyanyi Sherina sulit ditiru anak-anak sebayanya saat itu, tapi citra kanak-kanak Sherina cukup sukses. Sherina kecil dikenal sebagai anak yang baik dan lugu. Ini semua adalah modal bagi pemunculan Sherina remaja
Coba bandingkan dengan efek video klip album remaja Sherina: korset, gothic, make up, ranjang dan umur 17 tahun. Begitu kontras dengan citra kanak-kanaknya dulu. Para penggemarnya dari masa kanak-kanak akan sulit menerima pemunculan kembalinya ini. Bahkan Agnes Monica pun tak pernah memasukkan ranjang dalam video klip-nya.
Begitu banyak bintang yang di masa kanak-kanaknya sukses tapi gagal meniti karir keartisan di masa remaja karena pencitraan yang salah. Bagaimana menurut anda? [ ]
Ditulis dalam marketing, strategic | 2 Komentar »
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »